Miftachul terpilih menggantikan KH Ma’ruf Amin yang terpilih menjadi Wakil Presiden RI (Wapres) periode 2019-2024

Miftachul juga menjadi Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menggantikan Ma’ruf Amin yang maju menjadi cawapres di Pilpres 2019. Dengan cara ini, kedua MUI menyampaikan kembali pimpinan dan PBNU yang sebelumnya diduduki. oleh Ma’ruf Amin dikirim ke Miftachul. Berita Hari Ini

Kiai Miftachul adalah pengelola Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, di Kota Surabaya. Ia sebelumnya adalah Rais Syuriah dari Nahdlatul Ulama Dewan Daerah (PWNU) Jawa Timur periode 2007-2013 dan 2013-2018. Selain itu, ia juga dikenal sebagai spesialis di bidang fikih dan kitab kuning.

Nama Kiai Miftachul mengemuka saat menjadi saksi ahli agama yang memberatkan kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat audiensi di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan pada 21 Februari 2017.

Seperti Rais Aam PBNU MP, Miftachul Akhyar menjadi ahli pertama yang dihadirkan Kementerian Publik (JPU) pada sidang ke-11. Saksi ahli agama Muhammadiyah adalah Majelis Pusat (PP) Muhammadiyah, sekaligus wakil ketua MUI yaitu almarhum Prof. Yunahar Ilyas. Berita Terkini

Di hadapan majelis hakim, Miftachul menyayangkan pidato Gubernur DKI Ahok yang menyinggung ayat 51 Al-Maidah saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Pramuka, Kabupaten Kepulauan Seribu pada 27 September 201. Menurut Miftachul, ada indikasi telah disesatkan oleh umat Islam dalam pidato Ahok. Berita politik

Read More: PA 212: “Mendewakan Dilarang dalam Islam”

Indikasi hukum pencemaran nama baik Alquran adalah kalimat “gunakan surat al-Maidah ayat 51”, yang diucapkan oleh Ahok. Padahal, menurutnya, para ulama biasa mewariskan ayat ini.

“Bagi yang bukan ulama karena memperoleh ilmu dari ulama. Ada bukti adanya penipuan oleh ummat. Artinya menipu orang. Orang yang sudah beriman diajak untuk tidak mempercayai ayat ini. Semula yang beriman tidak beriman atau beriman. “kata Miftachul. Avril Lavigne Fanpage

Saat diwawancarai wartawan dari Republik, Jumat (27/11), Miftachul punya harapan bagi umat Islam di Indonesia.

“Harapan kita, kalau kita tidak menjadi orang yang saleh, akan ada yang mau belajar. Karena Nabi sendiri hanya membagi dua jenis orang: orang yang alim, yang telah mempelajari ilmu dan mengetahui, dan mereka yang masih dalam urutan mengetahui. Kami ada di antara mereka. Tidak ada divisi ketiga. Jika demikian, maka tidak termasuk dalam lembaga ini. Harapan Islam masih jauh dari yang perlu kita pahami, ”ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *